Pembubaran Front Pembela Islam ( FPI ): Pengulangan Sejarah Masa Lalu Zaman Berlakunya Nasakom.

Oleh,

KH.Tb. Abdurrahman Anwar Al Bantany.

(Pimpinan Ponpes Darul Anwar Dan Salah Satu Pendiri Front Pembela Islam FPI)

Pengulangan sejarah terjadi dan menimpa Front Pembela Islam zaman ini.

Dahulu ketika Bung Karno berkuasa dan berkolaborasi dengan Jargon Nasakom ( Nasionalis-Agama-Komunis ), Nasionalis diwakili oleh PNI dan sekutunya, Agama diwakili oleh Nahdholul Ulama ( NU ) dan komunis diwakili oleh PKI dan anteknya.

Saat itu penolakan keras dari Partai Masyumi ( Majelis Syuro Muslimin Indonesia ), Ormas Islam baik Itu HMI, GPII dan PII menentang keras berlakunya Nasakom.

Pada gilirannya Partai Masyumi dibubarkan dan tokoh-tokohnya dipenjarakan tanpa proses pengadilan, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dan Pelajar Islam Indonesia (PII) juga dibubarkan karna menentang keras Nasakom.

Saat ini ketika kita kilas balik sejarah apa yang menimpa Masyumi, GPII dan PII, secara bersamaan persis menimpa Front Pembela Islam ( FPI ).

Sejarah masa lalu berulang dan itu menjadi pembelajaran sekaligus peringatan bagi para pejuang di negeri ini.

Kalau hari ini dan zaman ini Front Pembela Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia ( HTI ) yang dibubarkan maka esok atau lusa tidak menutup kemungkinan giliran NU dan Muhammadiyah dan ormas lainnya yang dibubarkan.

Front Pembela Islam (FPI) berdiri pada tanggal 17 Agustus 1998 dan dibubarkan pada tanggal 30 Desember 2020.

Front Pembela Islam sangat banyak memberikan kontribusi kepada Agama, Bangsa dan Negara, baik dalam bentuk amar makruf nahi mungkar, sosial kemanusiaan, dan dalam berbagai penguatan peradaban lainnya.

Front Pembela Islam sejak awal berdiri sangat konsen dan fokus dalam empat bidang garapan sebagaimana tertuang dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi yakni dakwah, hisbah, jihad, dan penerapan syariat Islam secara kaffah.

Jika Nahdhotul Ulama (NU) lebih menekankan pada amar makruf dalam arti pengembangan pondok pesantren dan Muhammadiyah pada bidang sosial pendidikan, maka front Pembela Islam melakukan sesuatu yang belum digarap sepenuhnya oleh NU dan Muhammadiyah, itulah kerjasama dan sinergi yang indah dan berkah dalam mengawal dan menjaga kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Sejarah perjalanan perjuangan Front Pembela Islam di luar dugaan menyeruak seperti ombak dan badai yang menghantam berbagai macam kemaksiatan, kebathilan, kedzoliman dan angkara murka lainnya.

Berbagai kepentingan mulai bersekutu dan tidak senang dengan sepak terjang Front Pembela Islam yang mendatangkan maslahat kepada umat, maka kelompok kepentingan yang merasa terusik baik secara politik, bisnis dan akar kepentingan lainnya berupaya dengan segala cara agar Front Pembela Islam dibubarkan.

Pemerintahan KH.Abdurrahman Wahid ( Gusdur ) didesak agar membubarkan Front Pembela Islam gagal dan tidak berhasil.

Pemerintahan Megawati didesak agar membubarkan Front Pembela Islam juga gagal dan tidak berhasil, hanya mampu memenjarakan Al Habib Muhammad Rizieq Syihab dua kali.

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berusaha untuk membubarkan Front Pembela Islam juga gagal dan tidak berhasil, hanya bisa penjarakan Al Habib Muhammad Rizieq Syihab satu kali.

Rezim Jokowi secara berturut-turut dan membabi buta berupaya mendeskriditkan Front Pembela Islam ternyata sukses dan berhasil.

Serentetan peristiwa dan tragedi menimpa Front Pembela Islam di Era Jokowi, Al Habib Muhammad Rizieq Syihab dan FPI nya di kriminalisasi, di dzolimi secara sistemik dan sistimatis, fitnah dan pembunuhan karakter menimpa Imam Besar Al Habib Muhammad Rizieq Syihab dan Front Pembela Islam.

Puncaknya adalah penembakan dan pembantaian 6 Syuhada Laskar FPI saat mengawal Imam Besar Al Habib Muhammad Rizieq Syihab, penetapan 6 tersangka Fungsionaris Front Pembela Islam, penahanan Imam Besar Al Habib Muhammad Rizieq Syihab, Somasi dari PTPN V111 agar lahan pondok Pesantren Markaz Syariah Agro Kultural dikembalikan ke Negara dan puncaknya Pembubaran Front Pembela Islam, lengkap sudah.

Demikianlah sejarah selalu berulang dan itu bagian dari pembelajaran sekaligus peringatan bagi orang orang yang berfikir.

Bagikan Tulisan Di Atas :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *