Pergerakan Di Jagat Kehidupan: Berjuang Bersama Dan Beresiko Sendirian.

Oleh,

KH.Tb. Abdurrahman Anwar Al Bantany.
( Pimpinan Ponpes Darul Anwar Dan Aktifis Da’wah )

Kewajiban seluruh umat manusia adalah berjuang, berkorban, dan beresiko, itulah sebuah Sunnatulloh yang harus dijalankan dengan berbagai konsekuensinya.

Berjuang menegakkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan membasmi berbagai macam kedzoliman, kebathilan, kemunkaran, kesewenang-wenangan yang sedang terjadi dan merajalela.

Berkorban dengan ilmu, harta, tenaga, daya upaya, materi, senjata, doa, dan lain-lain.

Beresiko untuk difitnah, diusir, dipenjara bahkan dibunuh sekalipun.

Berjuang, berkorban dan beresiko bagian dari tiga dimensi yang tidak dapat terpisahkan dalam medan juang pergerakkan yang bersifat dinamis.

Yang sulit itu adalah bukan perjuangannya, dan pengorbanannya, karena secara umum rakyat selalu siap berjuang dan berkorban untuk memperbaiki nasib kehidupan agama, bangsa dan negaranya.

Tetapi kecenderungan yang sulit itu adalah rakyat belum siap menanggung resiko dari perjuangan dan pengorbanannya dengan berbagai alasan rasa takut dan lain-lain.

Kebersamaan dalam perjuangan, dan pengorbanan relatif sudah berjalan di tengah kehidupan, akan tetapi kebersamaan dalam menanggung resiko cenderung sendiri sendiri.

Contoh bagaimana Imam Besar Al Habib Muhammad Rizieq Syihab mengajak dan menyerukan rakyat agar mau berjuang dan berkorban, sehingga ajakan dan seruan dari Habib tersebut menjadi spirit seluruh rakyat, tetapi ketika Al Habib Muhammad Rizieq Syihab menanggung resiko ditahan dan dipenjara, ya sendirian, dan tidak ada perlawanan yang nyata dari rakyat untuk membela sang pejuang tersebut, padahal pengikut Al Habib Muhammad Rizieq Syihab boleh dikatakan jutaan orang.

Begitupun contoh lainnya yang dialami oleh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, KH.Cecep Bustomi dan Al Habib Bahar bin Smith, ketika para pejuang itu beresiko dengan rezim, lagi lagi ya sendirian.

Bagaimana pengikut Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang militan dalam perjuangan, dan pergerakan, tetapi ketika Ustadz Abu Bakar Ba’asyir nya dipenjara, pengikutnya tetap diam gak ada perlawanan.

Bagaimana kasus Almarhum KH. Cecep Bustomi, salah satu Deklarator Front Pembela Islam, sekaligus tokoh sentral Front Hizbulloh saat dibunuh dan diberondong peluru di daerah Serang Banten, sampai menemukan ajalnya bersimbah darah, lagi lagi pengikutnya dan rakyat diam seribu bahasa tidak ada perlawanan.

Al Habib Bahar Bin Smith sosok dan tokoh pejuang muda yang mengajak dan menyerukan untuk menumpas dan membasmi berbagai Kedzoliman, tetapi di saat Al Habib Bahar Bin Smith beresiko ditahan dan dipenjara pengikutnya dan rakyatnya juga diam tidak ada perlawanan yang nyata.

Dengan demikian mulai dari Al Habib Muhammad Rizieq Syihab, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Alm KH.Cecep Bustomi dan Al Habib Bahar bin Smith menjadi pelajaran sangat berharga bahwa ketika berjuang dan berkorban bisa bersama-sama, tetapi di saat menanggung resiko itu sendiri sendiri.

Menyedihkan dari waktu ke waktu model perjuangan dan pengorbanan dari rakyat masih sebatas euforia dan ceremonial belaka.

Sampai kapan akan terjadinya kebangkitan umat, sampai kapan akan munculnya keberanian umat, dan sampai kapan terjadinya tegaknya sebuah keadilan di negeri ini jika modal dasar visi perjuangan rakyat seperti ini terus.

Tetapi inilah realitas dari sebuah eksistensi perjuangan dan pengorbanan harus ditebus dengan resiko tumpahnya air mata, keringat, darah, penjara dan nyawa.

Para pejuang akan menjadi dirinya sendiri dan akan selalu siap menanggung resiko apapun dalam kesendirian.

Bagikan Tulisan Di Atas :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *