Risalah Cinta Untuk K.H. Tb. Abdurrahman Anwar Al Bantany

Risalah Cinta Untuk K.H. Tubagus Abdurrahman Al-Bantany

Oleh : Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik

Aku awali risalah diri ini dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, Tuhan alam semesta, tidak tuhan kehidupan, Tuhan manusia. Hanya Allah SWT Tuhan yang hak untuk disembah, hanya aturan Allah SWT yang hak untuk ditaati, dan hanya hukum Allah SWT yang hak untuk diterapkan.

Sesungguhnya, apa yang Allah kehendaki terjadi pasti terjadi. Sebaliknya, apa yang tidak Allah kehendaki terjadi, pasti tidak terjadi.

Sungguh, tidak ada yang luput dari pengamatan Allah SWT, dari semesta yang terus beredar diangkasa, hingga daun-daun yang berguguran dari pohonnya. Semua peristiwa tidak akan pernah terjadi, tanpa izin dan kehendak Allah SWT. Setiap takdir telah ditetapkan di Lauhul Mahfud.

Sungguh, telah aku sampaikan sebuah syair kerinduan dan keinginan untuk selalu karib, membersamai dan berkhalwat dalam aktivitas dakwah :

“Setiap orang akan menghabis waktunya untuk sesuatu yang dicintainya. Nelayan menghabiskan waktunya di laut, petani menghabiskan waktunya di ladang, penjudi menghabiskan waktunya di meja judi, pemabuk menghabiskan waktunya di kedai minuman, lelaki hidup belang menghabiskan waktunya bersama wanita jalang”

“Sedangkan aku, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, bersama cintaku pada rab ku, cintaku padamu dan pada seluruh umat, dan menghabiskan waktu kita dalam dakwah. Dakwah yang kita ada bersamanya dan berharap menjemput ajal karena syahid di jalannya”

Sungguh, telah datang takdir kebahagiaan, takdir yang telah dituliskan oleh Allah SWT, bahwa akhirnya kita dipertemukan. Tidak ada yang kebetulan, semua telah direncanakan. Allah SWT yang punya rencana dan yang maha berkehendak.

Tak ada kebahagiaan yang saat ini kurasakan, bahkan lebih girang dari seorang arab Badui yang mendapatkan unta merah, selain pertemuan ku dengan engkau. Pertemuan yang semoga Allah SWT ridlo, menumbuhkan cinta diantara kita, dan melahirkan banyak cinta cinta untuk terus berkhidmat dan semangat berjuang, dalam rangka menegakkan hukum Allah SWT. Tak ada visi seorang muslim sejati, melainkan ingin agar dirinya dan umat ini diatur dengan hukum yang datang dari Allah SWT.

Al Ustadz K.H. Tubagus Abdurrahman Al-Bantany yang dirahmati Allah SWT,

Setiap orang mendapatkan kemuliaan seukur dan sebanding dengan tingkat pemuliaannya terhadap dakwah ini. Dahulu para Rasul dan sahabat mulia karena mengemban dakwah, dan hari ini siapapun yang mengemban dakwah pasti Allah SWT muliakan.

Memang benar, tak ada izzul Islam wal Muslimin tanpa tegaknya hukum Allah SWT. Maka bagi siapapun, yang berkhidmat dan menginginkan kemuliaan bagi diri dan agamanya, maka tidak ada jalan lain kecuali harus terlibat dalam perjuangan untuk menegakkan hukum Allah SWT.

Diri ini merasa bahagia, dan bersyukur telah ditakdirkan bertemu dengan Engkau. Dan entah, karena getaran iman, diri ini langsung jatuh hati pada saat jumpa pertama, meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya. Mudah-mudahan ini adalah rasa, sebagaimana digambarkan dalam hadits Rasulullah Saw, sebagaimana diriwayatkan dari Abi Hurairah RA :

وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Allah.”

Dan sungguh aku berdoa kepada Allah SWT, agar Allah SWT menjadikan kita dua bersaudara dan saling mencintai karena Allah, sebagaimana digambarkan dalam hadits riwayat Abû, dari Umar bin al-Khathab ra., ia berkata; Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada sekelompokmanusia. Mereka bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada pun ber-ghibthah pada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Swt. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu?” Rasulullah bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan “ruh” Allah, padahal mereka tidakmemiliki hubungan rahim dan tidak memiliki harta yang merekakelola bersama-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunyai rasa takut (oleh selain Allah)dan tidak bersedih”.

Masyaallah, hanya inilah yang mampu diri tuliskan. Sebagai bentuk rasa syukur dan bahagia, Allah SWT telah pertemukan aku dengan engkau. Dan semoga, Allah SWT menjadi pengikat persaudaraan dan cinta diantara kita, Amien.

Saudara mu dalam iman dan dakwah fi Sabilillah. [].

Bagikan Tulisan Di Atas :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *